Pages

Sabtu, 27 Juni 2009

GAMBUT, PAGATAN BESAR, DAN DAMIT

Wetlands adalah lahan basah. Wetlands merupakan areal transisi antara lahan kering dan wilayah perairan seperti danau, rawa, paya, sungai, dan pantai. Tidak semua lahan basah yang selalu berair atau tergenang sepanjang tahun. Lahan basah memiliki peranan yang penting dalam hal menyumbang keanekaragaman hayati, pengatur iklim dunia, sumber pangan, sumber sirkulasi air, sumber perikanan, dan obat-obatan bagi masyarakat setempat. Masyarakat lokal memiliki tingkat ketergantungan kehidupan yang cukup besar pada ekosistem lahan basah.

Keberadaan lahan basah dapat bermanfaat baik untuk manusia, fauna, flora maupun lingkungan sekitar. Manfaat kawasan bagi makhluk hidup diantaranya adalah sebagai tempat hidup dan berkembang biak untuk ikan-ikan dan udang; tempat mencari makan banyak jenis fauna; tempat berlindung dari perburuan manusia; tempat flora dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Manfaat kawasan bagi lingkungan sekitar diantaranya adalah sebagai penyeimbangan keadaan iklim setempat; menjaga kestabilan ekosistem disekitarnya; menyaring udara kotor; mengatur mutu dan banyaknya air bagi daerah lingkungan sungai sekitar.

Fungsi khusus terpenting lahan basah mencakup pengembalian dan pelepasan air bumi, pengendalian banjir melindungi garis pantai terhadap abrasi laut, penambatan sedimen, toksikan, dan hara serta pemendaman karbon khususnya di lahan gambut. Hasil yang dapat dibangkitkan ialah berupa sumber daya hutan, pertanian, perikanan, dan pasokan air. Tanda pengenal berharga pada skala ekosistem ialah keanekaragaman hayati, keunikan warisan alami, dan bahan untuk penelitian ilmiah. Lahan basah, khususnya lahan gambut, merupakan gudang informasi, sangat berguna tentang lingkungan purba berkenaan dengan ragam vegetasi, keadaan iklim, lingkungan pengendapan, dan pembentukan gambut sendiri.

Fungsi lahan basah tidak saja diartikan sebagai faktor pendukung kehidupan secara langsung, seperti sumber air baku, jalur transportasi, dan habitat bagi berbagai flora dan fauna, tapi juga memiliki fungsi ekologi, produksi, dan estetika. Secara ekologi, lahan basah berfungsi sebagai penyedia dan penjaga siklus hidrologis, minimalisasi erosi, penahan dan penawar pencemaran, pencegah intrusi air laut, pengendali banjir dan kekeringan serta berperan penting dalam pengendali iklim global. Dalam konteks produksi, lahan basah berfungsi sebagai penyedia hasil hutan, pendukung kegiatan pertanian, sumber protein hewani akuatik dan sumber pendapatan masyarakat. Lahan basah juga memiliki nilai estetika yang khas, karena selain kondisi alamnya yang eksotik, juga keberadaannya berasosiasi dengan perkembangan budaya masyarakat setempat yang terapresiasi dalam bentuk kearifan-kearifan lokal. Lahan basah juga berpotensi dalam hal sumber dan pengembangan tanaman obat yang menjadi sarana masyarakat dalam pengobatan sustu penyakit. Pengobatan modern yang dilakukan bukan merupakan hal yang salah, tetapi di sini ada baiknya kita menggali manfaat dari tanaman yang ada di sekitar lahan basah untuk mengurangi penggunaan obat sintesis yang memilki efek samping lebih banyak. Potensi sumber daya yang ada sangat mendukung untuk dilakukan pemanfaatan tanaman-tanaman yang ada. Lahan basah dengan segala potensi yang ada harus dijaga kelestariannya. Pemanfaatan sumber daya yang ada harus diimbangi dengan pengelolaan yang tepat agar kondisi lingkungan dan ekosistemnya selalu stabil.

Tiga tempat lahan basah berbeda yang telah didatangi, yaitu GAMBUT (KM 17), PAGATAN BESAR, DAN DAMIT, memiliki keadaan yang berbeda pula. Masing-masing keadaannya didukung dengan keberadaan sumber daya alam dan masyarakatnya. Karakteristik yang khas dari ketiga tempat tersebut adalah:

A. GAMBUT (KM 17)
Ekosistem rawa Gambut, sebuah ekosistem yang unik yang lapisannya tersusun dari tim­bunan bahan organik mati yang terawetkan sejak ribuan tahun lalu, dan permu­kaan atasnya hidup berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar. Jika bahan organik di bawahnya dan kehidupan diatasnya musnah, maka ekosistem ini tak dapat pulih kembali. Daerah yang diobservasi ini merupakan daerah rawa yang selalu tergenang air dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Di atasnya banyak terdapat flora dan fauna yang mendiaminya sebagai tempat tinggal mereka. Sesuai dengan salah satu fungsi rawa yang merupakan habitat makhluk hidup. Tetapi, daerah ini jauh dari pemukiman penduduk.


Gambar 1. Karamunting


Gambar 2. Pohon Galam


Gambar 3. Purun Tikus


Gambar 4. Teratai

Antara lain tanaman yang terdapat di daerah tersebut adalah pohon Galam, karamunting, teratai, kelakai (jenis paku-pakuan), patikan kebo, dan purun tikus. Fauna yang ada berupa nyamuk dan hewan-hewan air seperti ikan kecil dan katak. Dalam bidang farmasi, flora yang ada di daerah tersebut berpotensi sebagai tanaman obat, yaitu pohon Galam, karamunting, teratai, kelakai (jenis paku-pakuan),dan patikan kebo. Tanaman purun tikus juga berperan dalam pengendalian keseimbangan ekosistem dengan berfungsi efektif sebagai penurun jumlah logam (salah satunya Fe) yang ada di suatu daerah dengan cara lebih banyak menyerap logam tersebut agar tumbuhan lain yang sangat sensitif dengan logam dapat tumbuh dengan baik. Untuk itu perlunya lahan rawa seperti ini dipertahankan agar potensi-potensi tanaman obat yang ada dapat di daerah tersebut dikembangkan. Tanaman-tanaman tersebut akan sangat membantu jika terus digali manfaat dan potensinya dengan bjak agar lingkungan sekitar yang ada dapat terjaga dengan baik sehingga ekosistem lahan rawa tidak rusak.

Di daerah rawa ini telah mengalami proses reklamasi, yaitu proses pengalihfungsian suatu lahan dengan tujuan tertentu, biasanya akan dijadikan sebagai tempat pemukiman. Hal ini terlihat dengan adanya penumpukan tanah urukan sebagai awal proses reklamasi tersebut. Dalam proses tersebut juga, untuk membuka lahan dengan lebih cepat dilakukanlah pembakaran lahan. Proses ini dapat dengan cepat berjalan dengan keadaan lahan rawa yang sangat mudah terbakar. Proses-proses tersebut sangatlah mengganggu keadaan lingkungan sekitarnya.


Gambar 5. Lahan yang telah direklamasi


Gambar 6. Hasil pembakaran lahan

Reklamasi yang dilakukan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem daerah itu karena daerah tersebut ‘ditutupi’ fungsinya sebagai penampung air oleh tanah urukan. Kapasitas air yang dapat ditampung sebelumnya menjadi berkurang akibat reklamasi tersebut. Selain itu, reklamasi juga menjadikan daerah tersebut mengurangi jumlah flora berpotensi obat yang dapat tumbuh di atasnya. Pembakaran lahan juga mengakibatkan kualitas air rawa yang ada sebelumnya sudah asam menjadi sangat asam. Akibat lainnya adalah polusi udara yang dapat berakibat buruk pada saluran pernapasan akibat dari asap hasil pembakaran lahan serta timbulnya penyakit , seperti malaria, akibat bermigrasinya populasi nyamuk dari habitatnya di daerah tersebut.


Gambar 7. Air rawa


Gambar 8. Air berlapis minyak

Kondisi air di daerah ini terlihat berwarna hitam di permukaannya dan berbau. Di sekitar lahan ini kebanyakan di permukaan airnya terlihat adanya lapisan minyak yang disebabkan karena pencemaran minyak yang kemungkinan berasal dari bahan bakar untuk membakar lahan. Kondisi tanahnya yang asli berwarna agak coklat gelap, setelah ditutupi dengan tanah urukan yang berwarna kuning tua agak merah (sejenis tanah liat) warna asli tanahnya tidak terlihat lagi. Di lahan yang telah direklamasi ini tanahnya bersifat agak asam dengan ditandai rentang pH antara 5-6. Tetapi untuk tanah yang tergenang air sifatnya lebih asam dengan pH di bawah 3,5 karena diperkirakan tanah tersebut adalah tanah asli lahan itu yang tercemar oleh pembakaran lahan. Setelah direklamasi kelembapan tanahnya berkisar antara 59%-60%, dan yang dekat dengan air kelembapannya mencapai 100%.


B.PAGATAN BESAR
Pagatan Besar merupakan sebuah desa kecil di wilayah pesisir pantai Pelaihari Kalimantan Selatan, sebuah wilayah yang merupakan batas antara ekosistem laut dan daratan. Masyarakatnya berpatokan hidup pada hasil alam di sekitar pantai. Kawasan pesisir pantai seperti halnya kawasan lainnya yang menjadi rumah bagi berjuta organisma kecil (hewan dan tumbuhan) yang sungguh unik dan menyimpan berjuta panorama yang mempesona. Jarang terpikir oleh kita, kawasan pinggir pantai dengan batuan cadas, ternyata menjadi “rumah” bagi begitu banyak hewan kecil dan tumbuhan “alga” kecil. Selain itu, pesisir pantai mempunyai karakteristik yang khas, di mana dampak yang terjadi akibat kegiatan manusia atau perubahan alam dapat menyebabkan perubahan lingkungan yang tidak bisa dikembalikan kepada kondisi awalnya (irreversible impact). Keberhasilan pengelolaan pesisir pantai akan ditentukan oleh keseimbangan antara tiga fungsi utama yaitu fungsi sosial, fungsi ekonomi, dan fungsi lingkungan. Pengalihfungsian pantai menjadi marina, tambak, atau resort wisata dan perumahan, jika tidak terkendali dan dilakukan tanpa pertimbangan yang matang akan mengancam kelestarian hutan mangrove juga berimbas pada daerah sekitarnya. Hutan pantai dan mangrove juga merupakan bagian dari ekosistem pesisir dan laut yang menyediakan sumber daya alam yang produktif baik sebagai sumber pangan, tambang mineral dan energi, media komunikasi maupun kawasan rekreasi atau pariwisata serta penemuan produk biochemical. Namun, seiring dengan laju pertambahan penduduk dan dinamika pembangunan regional yang tidak taat asas kelestraian lingkungan hidup, kedua tipe hutan tersebut akhir-akhir ini mulai mengalami kerusakan yang berarti.

Seperti pada kondisi pesisir pantai Pagatan Besar yang memprihatinkan, begitu parah kerusakan yang terjadi di sana. Menurut warga sekitar garis pantai sudah mundur dari lokasi awalnya sehingga wilayah pantai semakin sempit, banyaknya lumpur yang terdampar dengan jumlah yang banyak dan tebal yang besar, padahal jarak dengan muara sungai Barito cukup jauh, mengidentifikasikan bagian hulu DAS juga mengalami kerusakan dan berkurangnya mangrove di sekitar muara yang berfungsi menangkap lumpur yang mengalir ke muara. Juga terdapat sampah-sampah baik organik maupun anorganik terdampar di sana. Sampah organik yang banyak terdampar berupa tumbuhan eceng gondok, batang kayu dan ranting, bahkan ada tumbuhan yang seharusnya tidak ada di daerah pantai yang terdampar. Sedangkan sampah anorganik yang banyak terdapat di sana adalah sampah-sampah yang berasal dari manusia, seperti plastik-plastik.



Gambar 9. Kondisi Pantai Pagatan Besar


Gambar 10. Sedimen lumpur di pantai


Gambar 11. Sampah plastik

Lumpur-lumpur berupa sedimentasi yang berasal dari muara sungai Barito tersebut lama kelamaan akan mengeras sehingga membuat pantai menjadi dangkal. Di pantai ini juga terjadi abrasi yang mengakibatkan lingkungan pesisir menjadi rusak. Hal ini terlihat dengan banyaknya sampah-sampah yang menumpuk dan tersebar di pinggiran pantai, seperti yang telah disebutkan sebelumnya banyaknya terdapat sampah organik maupun anorganik. Abrasi tersebut disebabkan oleh gelombang yang terus-menerus mengikis daratan dan kembali lagi dengan membawa sampah-sampah. Ekosistem menjadi tidak stabil dan seimbang lagi. Hal ini juga didukung dengan kurangnya barrier (baik alam atau buatan) sebagai pnahan gelombang air laut. Seharusnya di daerah pantai itu harus memiliki barrier alam dan buatan untuk mencegah dampak buruk dari abrasi. Hal yang harus dilakukan adalah membuat barrier buatan berupa siring batu kemudian baru menanam tanaman bakau sebagai barrier alam. Sehingga dapat mencegah dampak bruk abrasi terhadap lingkungan pantai. Ketika air laut pasang pun terjadi banjir hingga ke pemukiman penduduk. Air laut pasang tersebut mengakibatkan lingkungan pesisir pantai rusak. Sanitasi masyarakat juga terganggu, karena terjadi intrusi air laut hingga ke daratan (sumur-sumur warga). Air laut yang masuk hingga ke daratan mengakibatkan air tawar yang ada di daratan bercampur dengan air asin. Air darat yang mulanya tawar berubah menjadi payau. Hal ini menyebabkan masyarakat kesulitan memperoleh air bersih untuk kehidupan sehari-hari, terutama untuk minum. Untuk memperoleh air bersih mereka terpaksa membeli untuk keperluan konsumsi dan memasak. Ada salah seorang warga yang mencoba untuk merebus air sumur yang payau tadi untuk minum, ternyata di bagian dasar bejana terdapat endapan putih. Endapan putih ini diduga endapan logam kalsium yang dapat menyebabkan warga sekitar menderita penyakit batu ginjal. Dampak buruk dari abrasi tersebut harus lebih mendapat perhatian agar kelangsungan hidup masayarakat tersebut dapat berjalan dengan baik.

Masyarakat setempat dalam hal penanganan suatu penyakit lebih mempercayakan pada pelayanan kesehatan yang ada, yaitu pada bidan di Puskesmas Pagatan Besar. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena kurangnya tenaga kesehatan yang membantu mereka dalam masalah kesehatan. Kurangnya pelayanan kesehatan yang menjadi masalah di sini sangat didukung dengan kurangnya informasi warga seputar tanaman yang berpotensi sebagai obat dan khasiatnya. Karena mereka sudah sering menggunakan obat-obatan dokter atau sintesis yang memilki efek samping yang lebih banyak jika dalam penggunaannya tidak diawasi dengan baik, walaupun kerja obatnya cepat. Sebenarnya tanaman obat yang memiliki efek samping lebih kecil dibanding obat sintesis tersebut, ada terdapat di sekitar lingkungan pantai tersebut. Hal ini tentunya akan mempermudah penanganan penyakit yang diderita masyarakat. Memang tidak seluruhnya penyakit akan sembuh jika hanya menggunakan obat-obatan tradisional, karena jika sudah harus dilakukan tindak lanjut medis yang mengharuskan dioperasi misalnya, pada penyakit batu ginjal, setidaknya obat-obatan tradisional menjadi alternatif utama untuk menyembuhkan penyakit selain dari pelayanan medis. Dan juga tidak semua tanaman obat yang berkhasiat untuk segala macam penyakit tumbuh di daerah tersebut. Sebenarnya di sini mereka hanya membutuhkan informasi mengenai tanaman-tanaman apa saja yang berpotensi sebagai obat, karena mereka juga cukup merespon dengan baik tentang informasi-informasi tersebut. Tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat di daerah ini anatara lain tanaman bandotan yang diketahui berkahasiat untuk demam, sakit tenggorokan, dan radang telinga; Nippon atau rumput jepang; tapak liman; rumput teki; jambu biji sebagai antidiare; api-api; beluntas sebagai penambah nafsu makan dan penurun panas; kangkung laut; bangley; dan pohon sirsak. Informasi yang diperoleh bahwa ada sebagian kecil yang memanfaatkan tanaman tersebut sebagai obat, yaitu bangley digunakan sebagai jamu, kangkung laut sebagai obat luka, dan daun pohon sirsak sebagai obat sakit perut. Tindak lanjut dalam pemanfaatannya perlu ditingkatkan lagi yaitu dalam hal penyampaian informasi seputar masalah kesehatan masyarakat dan tanaman berpotensi obat. Sebagai langkah dalam pemanfaatan bahan alam berpotensi obat yang diimbangi dengan pengelolaan yang baik, sehingga dapat memperoleh manfaat dari lingkungan tetapi lingkungan tetap terjaga keseimbangannya.

Penduduk yang bermukim di daerah pesisir pantai Pagatan Besar hampir sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Mereka pergi melaut pada pagi hari sekitar pukul 3-4 pagi. Tetapi, pada saat kami observasi mereka tidak sedang melaut jadi kegiatan di pantai sepi. Hanya ada beberapa yang melakukan sedikit perbaikan pada perahu mereka dan anak-anak kecil yang berlarian di pantai.


C. DAMIT
Damit merupakan sebuah daerah yang terletak di Desa Ambawang Kecamatan Batu Ampar, Pelaihari. Daerah ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang terletak sekitar 2 kilometer dari pemukiman penduduk. Di daerah ini dibangun bendungan yang berfungsi sebgai penampung air karena daerah ini termasuk daerah dataran tinggi yang kering akibat wilayah yang telah rusak. Untuk menjaga agar kebutuhan air bagi makhluk hidup, terutama manusia, yang tinggal di daerah tersebut tercukupi dibuatlah bendungan. Bendungan ini digunakan masyarakat sekitar sebagai sumber pengairan sawah, ladang, dan tempat untuk menangkap ikan. Tetapi, penggunaan air bendungan tidak untuk minum. Agar lebih mudah pengairan dilakukan dengan cara membuat saluran-saluran air dari bendungan menuju ke sawah. Sawah dibuat letaknya dengan cara bertingkat. Ladang yang tidak diairi digunakan warga untuk menanam kacang tanah, ubi, dan singkong.


Gambar 12. Bendungan Damit


Gambar 14. Sungai kecil di sekitar Bendungan

Dalam penggunaannya bendungan tersebut telah terhitung empat kali jebol. Hal ini disebabkan oleh debit air yang melebihi kapasitas kemampuannya pada musim hujan sehingga air yang tertampung meluap dan membanjiri daerah sekitarnya. Memang dalam hal pemanfaatan bendungan tersebut juga harus diperhatikan kemungkinan dampak yang terjadi. Jika kapasitasnya kurang harus ada langkah perbaikan dan panambahan kapasitas bendungan agar menjadi lebih maksimal lagi. Bukan berarti penggunaannya selama ini tidak maksimal, hanya saja ketika terjadi hal demikian tidak hanya bendungan yang mengalami kerusakan sebagai akibatnya tetapi juga lingkungan sekitar dan pemukiman penduduk juga terkena dampak buruk akibat debit air yang berlebih tersebut. Tetapi, ketika terjadi debit air berlebih proses pengairan sawah menjadi lebih mudah dan kebutuhannya tercukupi. Pada saat curah hujan turun bendungan akan tetap mampu menampung kapasitas air yang dimilkinya. Kerusakan bendungan tidak terjadi karena debit air yang ada tidak melebihi kapasitas. Jumlah air yang ada berjumlah lebih sedikit sehingga pemanfaatan air yang disuplai untuk pengairan sawah menjadi berkurang. Itulah kekurangan dan kelebihan yang dimilki bendungan tersebut.



Gambar 13. Sawah dan ladang di Damit

Lingkungan sekitar bendungan adalah berupa lahan kering yang banyak ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang berpotensi obat antara lain tanaman tembelekan, akasia, karamunting, tapak liman, dan Nippon serta tanaman lainnya yaitu pohon karet, putri malu, dan paku-pakuan. Tetapi, dalam hal pemanfaatan tanaman tersebut oleh masyarakat masih kurang diperoleh informasi karena letak pemukiman yang cukup jauh dari daerah bendungan. Seperti di daerah lainnya juga masyrakat sekitar menggunakan air bendungan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Agar pemanfaatan bendungan tetap maksimal, ketahanan bendungan dan keseimbangan lingkungan harus tetap dijaga agar tidak terjadi kerusakan besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar